Sederhana Dalam Mengikhlaskan

Mungkin sebagian orang sudah tidak asing dengan kata “Mengikhlaskan” atau boleh jadi sebagiannya lagi masih menerka bahkan belum tahu apa itu definisi dari mengikhlaskan. Banyak yang bilang mengikhlaskan adalah memberikan atau menyerahkan dengan setulus hati. Tapi, bagiku mengikhlaskan memiliki arti yang lebih luas dari itu, lebih dari sekedar menyerahkan dan memberi. Aku tidak meminta semua untuk menyetujui itu, namun izinkan bercerita sedikit tentang kisahku tentang belajar mengikhlaskan.

Dulu, aku pernah merasakan di satu titik yang lemah ketika orang yang aku harapkan tidak ditakdirkan untuk membersamai aku dalam menjalani hidup. Rasa kecewa dan marah sudah aku lalui yang berujung selalu merasa ingin menyerah dan menyalahkan semesta tentang kejadian-kejadian yang aku anggap begitu memilukan. 

Belum lagi saat aku sedang merasakan kehilangan atas orang yang belum halal untuk dimiliki. Ada banyak ucapan-ucapan yang membuatku semakin melemah. Rasanya semua jadi gelap, aku merasa tidak ada yang peduli tentang perasaan aku saat itu. Semangatku untuk menjalai hidup juga perlahan menghilang. Namun, aku juga begitu takut akan kematian. Aku takut sekali Allah mencabut nyawaku dalam keadaan yang lemah iman. Aku takut Allah tidak memberi kesempatan untuk aku berlapang dada menerima  sebuah garis takdir yang sudah ditetapkan. Cukup menyiksa bukan? 

Lalu, aku mulai berpikir untuk mencari cara agar aku bisa terbebas dari pikiran-pikiran toxic yang aku buat sendiri. Aku harus memulai dari mana agar bisa mengikhlaskan sesuatu yang tidak pernah ditakdirkan untukku. Berminggua-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun aku mencoba untuk menemukannya namun, aku belum cukup beruntung semakin aku mencoba, semakin  aku merasa gagal untuk mencapainya. Membuat  perasaan marah bercampur kecewa lagi-lagi muncul menyelimuti hariku. Tidak mudah memang untuk bisa mengikhlaskan, pikirku. Kemudian, aku mulai merenung lagi  betapa rugi sekali jika aku terus-terusan terperangkap dengan perasaan ini. Perasaan yang semakin harinya semakin membuat aku menjadi seseorang yang lemah. 

 

Semua orang pasti pernah memilki cerita sulit dalam hidupnya. Mungkin sedikit pun tidak pernah terbayangkan sebelumnya.  Mereka memiliki ruang luka di sudut hati yang tidak satu pun orang mengetahuinya. Namun, yang membedakan hanya satu, bagaimana cara masing-masing dari kita mengobati  luka itu sendiri.

Sebuah dialog sederhana dari seorang teman yang berhasil membuat aku kembali semangat untuk menjalani takdir. Aku jadi berpikir  bahwa lingkungan sehat akan menciptakan kebahagiaan bagi setiap orang yang ada di sekelilingnya. Jadi, jika kamu ingin berubah menjadi lebih baik, maka kamu harus memiliki lingkungan yang baik pula. Meskipun pada akhirnya kamu yang menjalani dan membenahi sendiri hidupmu, setidaknya ada seseorang yang bisa selalu mendengar dan mendorong kamu untuk menuju baik.

Juga, jangan pernah bandingkan takdirmu dengan takdir orang  lain. Mulai saat ini coba ubah pertanyaan “Mengapa aku mengalami hal ini? Mengapa perjalanan hidupku begitu berat? Mengapa aku tidak seberuntung mereka?” Bahlah semua pertanyaan itu menjadi “Hikmah apa yang aku dapatkan dari setiap kejadian-kejadian yang terjadi dalam perjalanan hidupku?” Pasti kamu akan lebih memaknai perjalanan hidupmu. 

Jauh lebih baik jika kamu memikirkan sesuatu yang positif. Hidupkan mindset positif dalam pikiranmu. Perlahan, hilangkan semua keraguan dalam dirimu, bangkit dan berjalanlah menuju kebaikan. Perbaiki hubunganmu dengan Dia, boleh jadi kecewa yang kamu dapat adalah bentuk teguran sederhana agar kamu kembali. Setelahnya aku yakin kamu tidak akan kecewa karena-Nya.

Sabar juga salah satu cara untuk mencapai keikhlasan, kamu hanya perlu menikmati setiap prosesnya. Mungkin, kamu akan merasakan lelah dan rasa ingin menyerah akan lebih sering muncul lagi. Tapi, jangan mau kalah dengan keadaan kamu harus menjadi juaranya, kamu harus bisa melewati rintangan sampai garis finish. Sampai rasa kecewa yang dulu pernah tertanam dalam dirimu perlahan bisa menjadi pemacu kamu dalam menjalani kehidupan yang lebih baik lagi.  

Mulai sekarang cobalah untuk memaafkan

Terdengar begitu klise mungkin, tapi percayalah semua memang berawal dari memaafkan. Kamu perlu memaafkan diri sendiri terlebih dahulu atas apa yang pernah terjadi. Selalu ingat firman Allah "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui," (QS Al-Baqarah: 216).

Karena, dari situ kamu lebih bisa menerima dan berakhir meingikhlaskan semua kejadian yang pernah kamu anggap sebagai sesuatu yang begitu menyakitkan. Jadi, mulai sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang takdir, sesuatu yang tidak pernah menjadi milikmu berarti memang bukan takdirmu.



-Fatimah Sf 

(dalam buku Jangan Biarkan Luka Menutup Mata Hatimu) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cracks Beneath the Quiet

Echoes of Pain

Tidak Pernah Menyenangkan