Mentari Esok Hari

Hujan rintik mengisi samalamku kali ini, gemercik airnya menambah keheningan malamku yang sudah terlalu hening. Malam ini, disudut rumah ku aku terdiam memandang air yang turun secara bergantian dari langit, memperhatikan  kaca di rumahku yang sudah dibasahi oleh embun, kau tahu? ditempat itulah aku bisa dengan percaya diri menuliskan harapanku,  harapan yang akhir-akhir ini selalu menjadi perbincangan aku dengan Rabb-ku. 

Kadang aku bepikir bagaimana mungkin aku bisa menjadikan seseorang yang belum pernah aku kenal dan temui sebagai perbincangan pada Rabb-ku? Menceritakan tentang segalamu yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa-apa tentang dirimu, satu hal yang aku yakini kamu adalah laki-laki baik, dan itu sudah cukup bagiku. 

Silahkan bilang bahwa aku terlalu lancang, tak apa aku mengakui. Tapi mau bagaimana lagi? Hanya pada-Nya aku bisa bercerita tanpa malu, tanpa perlu takut ada yang menghakimi. 


Ribuan hari aku masih bertahan dengan harapan yang sama, menunggu sesuatu yang akupun tidak tahu seperti apa bentuknya, semua terlihat begitu semu bagiku seakan tidak ada yang patut aku harapkan, seolah harapan itu sudah sirna jauh sebelum kamu mendambakannya. 

Harus berapa kali lagi aku bilang pada semesta aku lelah? 

Harus berapa lama lagi aku menunggu segala ini berakhir?

Suara bising di kepalaku selalu membuat aku kewalahan, bisikan-bisikan jahat seringkali terdengar di telingaku. 

Tapi…

Aku masih ingin mencium bau tanah yang tersiram air hujan

Aku masih ingin mendengar gemercik hujan yang selalu menenangkan 

Aku masih ingin melihat sinar matahari esok hari


Jadi, bertahan yaa? Sebentar lagi.


-SF ✨


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cracks Beneath the Quiet

Echoes of Pain

Tidak Pernah Menyenangkan