Narasi Perjuangan


Nyatanya aku masih terlalu sibuk mencari jawaban atas perasaanmu yang masih terlalu abu-abu, kamu yang terkadang menunjukkan kegigihan untuk terus memperjuangkan aku, tapi sering kali kamu acuh bahkan enggan sekali untuk melangkah maju. 


Aku yang terlalu berharap atau kamu yang terlalu memberiku harapan? Entahlah. 


Aku ingin sekali memberi kesempatan pada orang yang bukan kamu,membiarkannya masuk untuk memenangkan hatiku. Tapi,setiap aku mencoba hasilnya selalu sama. Aku terus membandingkannya dengan kamu dan dari perbandingan itu, kamu yang selalu punya nilai lebih. Padahal jika dilihat dari perjuangannya, ia lebih pantas untuk memenangkan hatiku. 

Aku bodoh ya? 

Atau aku terlalu naif? 


Malam ini, aku berharap bahwa kamu bisa  membangun narasi perjuangan untukku, memberi kejelasan tentang kemana akhirnya akan di bawa perasaan ini? Tapi nyatanya aku hanya memanjangkan angan-angan. 


Jadi, boleh kusimpulkan? Aku ingin menyerah, aku tidak lagi ingin menyusun narasi-narasi perjuangan itu. Aku lelah. 


Terimakasih pernah saling. 


-Sf ðŸ¥€

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cracks Beneath the Quiet

Echoes of Pain

Tidak Pernah Menyenangkan